Sayank,,hR ni
umur sayank
b'tmbh saTu. Hr
ini bkn uTk
disLmti,tp utk
direnungi. Ap aj
yg ud mas Lkkn
sLm hdp didnia
ini. Smg dg b'+ny umr,mas smkin +
b'iman,b'tqwa,+
dwsa,bs
mmbhgiakan oRtu,cpt
nyLesein skRpsi,&cpt
kTmu jodohny
mas. Amin.
Sayank,hny
seuntai doa ini
yg bs t'ucap dr
bibiRq&hatiQ..
Luv U..
Pengirim:
Mita
+628564373XXXX
Dikirim:
10 Des 2007
03:36:57
umur sayank
b'tmbh saTu. Hr
ini bkn uTk
disLmti,tp utk
direnungi. Ap aj
yg ud mas Lkkn
sLm hdp didnia
ini. Smg dg b'+ny umr,mas smkin +
b'iman,b'tqwa,+
dwsa,bs
mmbhgiakan oRtu,cpt
nyLesein skRpsi,&cpt
kTmu jodohny
mas. Amin.
Sayank,hny
seuntai doa ini
yg bs t'ucap dr
bibiRq&hatiQ..
Luv U..
Pengirim:
Mita
+628564373XXXX
Dikirim:
10 Des 2007
03:36:57
Posted under:
Semua orang pasti tahu jika yang namanya asap kendaraan bermotor adalah salah satu sumber polusi udara. Dan yang namanya polusi tentunya tidak jauh dari konsep “pencemaran” yang memiliki efek negatif, baik buat kesehatan tubuh maupun lingkungan kehidupan kita. Namun begitu, ketika saya masih kecil dulu, saya sering sekali mencoba menghirup kepulan asap dari knalpot kendaraan yang lewat di sebuah jalan besar dekat rumah. Aktivitas yang rupa-rupanya dilakukan juga oleh banyak anak-anak seumuran saya, hehehe...
Fenomena ini membuat saya keheranan, dan ujung-ujungnya memaksa saya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi (halah!)
Setelah sedikit memutar otak sambil sesekali bertanya sana-sini, akhirnya saya sampai pada sebuah simpulan sederhana, bahwa kebanyakan anak-anak melakukan aktivitas “penghirupan asap” ini dilandasi oleh semangat keingintahuan.
Kebanyakan anak-anak ini mengakui, bahwa aroma asap kendaraan bermotor yang mereka hirup ini masih dirasakan “asing”, dan inilah yang membuat mereka ingin menikmati sensasinya (halah!).
Sebenarnya ini sangatlah bisa dimaklumi, mengingat yang namanya anak kecil tentunya masih memiliki rentang kehidupan yang sedikit, yang berimbas sedikitnya pengalaman pula. Dan yang namanya semangat keingintahuan pastinya akan selalu ada. Dan ini tidak sepenuhnya buruk :)
Dulu, gara-gara aktivitas ini banyak sekali ibu-ibu yang khawatir atas kesehatan putra-putrinya. Bahkan saya pernah diTeot sama mama saya gara-gara ngeles :(
ps:
Bagi para ibu-ibu, jangan terlalu panik jika menemui fenomena di atas. Lebih baik jelaskan secara baik-baik terhadap buah hati anda. Tentang apa itu asap kendaraan bermotor?, bagaimana baunya? dan bagaimana dampaknya bagi kesehatan tubuh kita :)
Omong-omong soal bagaimana baunya, tidak ada jalan lain, selain membiarkan mereka menghirupnya sesekali. Toh, saya yakin tidak ada deskripsi sempurna yang bisa mengalahkan pengalaman inderawi. Asal tidak keseringan saja, hehehe...
FYI: DiTeot tuh hampir sama artinya dengan dicubit. Hanya saja, aktivitas Teot lebih mengedepankan kekuatan putaran jari (pada permukaan kulit korban) daripada sekedar ketajaman kuku. Meskipun keduanya sama-sama bertujuan untuk menyakiti, hehehe...
Fenomena ini membuat saya keheranan, dan ujung-ujungnya memaksa saya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi (halah!)
Setelah sedikit memutar otak sambil sesekali bertanya sana-sini, akhirnya saya sampai pada sebuah simpulan sederhana, bahwa kebanyakan anak-anak melakukan aktivitas “penghirupan asap” ini dilandasi oleh semangat keingintahuan.
Kebanyakan anak-anak ini mengakui, bahwa aroma asap kendaraan bermotor yang mereka hirup ini masih dirasakan “asing”, dan inilah yang membuat mereka ingin menikmati sensasinya (halah!).
Sebenarnya ini sangatlah bisa dimaklumi, mengingat yang namanya anak kecil tentunya masih memiliki rentang kehidupan yang sedikit, yang berimbas sedikitnya pengalaman pula. Dan yang namanya semangat keingintahuan pastinya akan selalu ada. Dan ini tidak sepenuhnya buruk :)
Dulu, gara-gara aktivitas ini banyak sekali ibu-ibu yang khawatir atas kesehatan putra-putrinya. Bahkan saya pernah diTeot sama mama saya gara-gara ngeles :(
ps:
Bagi para ibu-ibu, jangan terlalu panik jika menemui fenomena di atas. Lebih baik jelaskan secara baik-baik terhadap buah hati anda. Tentang apa itu asap kendaraan bermotor?, bagaimana baunya? dan bagaimana dampaknya bagi kesehatan tubuh kita :)
Omong-omong soal bagaimana baunya, tidak ada jalan lain, selain membiarkan mereka menghirupnya sesekali. Toh, saya yakin tidak ada deskripsi sempurna yang bisa mengalahkan pengalaman inderawi. Asal tidak keseringan saja, hehehe...
FYI: DiTeot tuh hampir sama artinya dengan dicubit. Hanya saja, aktivitas Teot lebih mengedepankan kekuatan putaran jari (pada permukaan kulit korban) daripada sekedar ketajaman kuku. Meskipun keduanya sama-sama bertujuan untuk menyakiti, hehehe...
Posted under:
Jika kita anda mau meluangkan waktu untuk bertanya, cobalah tanyakan kepada keluarga, sahabat, atau bahkan diri anda sendiri perihal hobi yang mereka dan anda miliki. Saya yakin jawaban-jawaban yang anda dapat akan seragam. Dan ini bukan sesuatu yang ganjil, menurut saya. Bahkan ini sangatlah wajar!
Keseragaman bukannya datang dengan sendirinya. Keseragaman hadir karena keseragaman”. Input yang sama “kemungkinan besar” akan menghasilkan output yang sama pula. Okey, ini masih bersifat hipotesis. Dalam arti bisa dikuatkan, apalagi dipatahkan. Anda berhak membuktikannya sendiri!.
Apakah anda memiliki pesawat televisi di rumah? Kalau iya, coba anda lihat beberapa tayangan di beberapa channel secara bergantian (saya yakin anda memiliki remote control,red). Umm, coba saja anda cermati betapa “seragam-nya” tayangan yang disuguhkan kepada pemirsa tv (anda termasuk,red). Entah itu acara berita, film cinta-cintaan, gossip, atau bahkan humor yang dikemas secara vulgar?!. Bisa dikatakan kalau setiap harinya kita mendapatkan suguhan yang itu-itu saja. Benar-benar membosankan!! Peradaban saat ini benar-benar garing!!!
Kembali soal hobi, ada salah satu hobi yang menurut saya sudah sangat tua. Menurut saya, kedua hobi ini saling terkait. Satu dan yang lainnya tidak bisa dipisahkan (saling dukung,red). Mirip logika aksi-reaksi. Hobi itu adalah Membaca dan Menulis. Entah itu essai, cerpen, novel, artikel, diary, blog, dll.
Pernah dalam suatu kesempatan saya berpikir, “Sampai kapan tradisi Baca-Tulis” ini akan eksis? Akankah akan ada saatnya hobi ini ditanggalkan manusia dari ranah peradabannya? Hmm, saya rasa tidak akan semudah itu. Selalu saja akan ada tulisan. Akan selalu ada juga aktivitas membaca sebagai reaksi atas keberadaan tulisan tersebut!
Jika anda seorang pelajar, entah itu pelajar Sd, SLTP, atau SMA, tentunya anda tidak asing dengan yang disebut buku-buku pelajaran. Anda juga tidak asing dengan aktivitas tulis-menulis. Sejak dahulu sampai sekarang aktivitas ini masih saja ada. Dan kalau pun ada sudah ada di bangku perkuliahan, aktivitas yang serupa pun tetap saja ada. Entah itu dalam bentuk paper, ujian, atau bahkan skripsi, hehehe...
Lantas bagaimana jika anda, yang kebetulan menemukan tulisan ini mengaku sudah tidak termasuk dalam kategori pelajar dan mahasiswa? Hmm, saya rasa aktivitas Baca-Tulis akan tetap saja ada. Entah itu dalam proses pembuatan KTP, rujukan resep obat dokter, atau bahkan ketika anda akan menggunakan fasilitas toilet (ladies-gent) di pusat perbelanjaan. Percayalah, tanpa bekal kemampuan Baca-Tulis, anda benar-benar berada dalam masalah besar, hehehe...(nb: saat ini, saya rasa anda tengah membaca tulisan saya,red)
Kegiatan Baca-Tulis akan senantiasa ada. Jika saja anda seorang muslim, anda tentunya anda tidak akan asing dengan kata “Iqra” dalam sebuah suratan dalam alqur'an yang berarti “bacalah”.
Ada yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menguasai teknologi. Sedangkan untuk menguasai teknologi pun tentunya dibutuhkan kemampuan Baca-Tulis. Setidaknya untuk membedakan cara baca Tombol: On/Off, hehehe...
Saya bukanlah menteri pendidikan saat ini. Saya juga bukan guru Oemar Bakri. Saya hanya orang yang sering memanfaatkan waktu luang yang saya memiliki untuk membaca dan menulis. Bagi saya, menulis adalah panggilan dari hati, sebagaimana membaca itu sendiri. “Seorang penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik”. Bukankah begitu, Adek Paramita Sari?! :)
Keseragaman bukannya datang dengan sendirinya. Keseragaman hadir karena keseragaman”. Input yang sama “kemungkinan besar” akan menghasilkan output yang sama pula. Okey, ini masih bersifat hipotesis. Dalam arti bisa dikuatkan, apalagi dipatahkan. Anda berhak membuktikannya sendiri!.
Apakah anda memiliki pesawat televisi di rumah? Kalau iya, coba anda lihat beberapa tayangan di beberapa channel secara bergantian (saya yakin anda memiliki remote control,red). Umm, coba saja anda cermati betapa “seragam-nya” tayangan yang disuguhkan kepada pemirsa tv (anda termasuk,red). Entah itu acara berita, film cinta-cintaan, gossip, atau bahkan humor yang dikemas secara vulgar?!. Bisa dikatakan kalau setiap harinya kita mendapatkan suguhan yang itu-itu saja. Benar-benar membosankan!! Peradaban saat ini benar-benar garing!!!
Kembali soal hobi, ada salah satu hobi yang menurut saya sudah sangat tua. Menurut saya, kedua hobi ini saling terkait. Satu dan yang lainnya tidak bisa dipisahkan (saling dukung,red). Mirip logika aksi-reaksi. Hobi itu adalah Membaca dan Menulis. Entah itu essai, cerpen, novel, artikel, diary, blog, dll.
Pernah dalam suatu kesempatan saya berpikir, “Sampai kapan tradisi Baca-Tulis” ini akan eksis? Akankah akan ada saatnya hobi ini ditanggalkan manusia dari ranah peradabannya? Hmm, saya rasa tidak akan semudah itu. Selalu saja akan ada tulisan. Akan selalu ada juga aktivitas membaca sebagai reaksi atas keberadaan tulisan tersebut!
Jika anda seorang pelajar, entah itu pelajar Sd, SLTP, atau SMA, tentunya anda tidak asing dengan yang disebut buku-buku pelajaran. Anda juga tidak asing dengan aktivitas tulis-menulis. Sejak dahulu sampai sekarang aktivitas ini masih saja ada. Dan kalau pun ada sudah ada di bangku perkuliahan, aktivitas yang serupa pun tetap saja ada. Entah itu dalam bentuk paper, ujian, atau bahkan skripsi, hehehe...
Lantas bagaimana jika anda, yang kebetulan menemukan tulisan ini mengaku sudah tidak termasuk dalam kategori pelajar dan mahasiswa? Hmm, saya rasa aktivitas Baca-Tulis akan tetap saja ada. Entah itu dalam proses pembuatan KTP, rujukan resep obat dokter, atau bahkan ketika anda akan menggunakan fasilitas toilet (ladies-gent) di pusat perbelanjaan. Percayalah, tanpa bekal kemampuan Baca-Tulis, anda benar-benar berada dalam masalah besar, hehehe...(nb: saat ini, saya rasa anda tengah membaca tulisan saya,red)
Kegiatan Baca-Tulis akan senantiasa ada. Jika saja anda seorang muslim, anda tentunya anda tidak akan asing dengan kata “Iqra” dalam sebuah suratan dalam alqur'an yang berarti “bacalah”.
Ada yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menguasai teknologi. Sedangkan untuk menguasai teknologi pun tentunya dibutuhkan kemampuan Baca-Tulis. Setidaknya untuk membedakan cara baca Tombol: On/Off, hehehe...
Saya bukanlah menteri pendidikan saat ini. Saya juga bukan guru Oemar Bakri. Saya hanya orang yang sering memanfaatkan waktu luang yang saya memiliki untuk membaca dan menulis. Bagi saya, menulis adalah panggilan dari hati, sebagaimana membaca itu sendiri. “Seorang penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik”. Bukankah begitu, Adek Paramita Sari?! :)
Posted under:
Ketika masih duduk di bangku SD dulu saya pernah membuat hipotesis yang lumayan keren (u/ ukuran anak SD,red). Menurut saya ada terdapat sebuah dikotomi yang membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Sesuai pengalaman saya dulu, kebanyakan anak laki-laki di sekitar saya memiliki sifat pemalas, terutama dalam belajar. Sebaliknya, kebanyakan anak perempuan memiliki sifat yang jauh lebih rajin, bahkan terkesan penurut. Keadaan ini berlangsung secara terus menerus hingga saya menganggap memang beginilah adanya. Terlebih lagi manakala posisi juara kelas 1 dan 2 selalu diduduki oleh anak perempuan. Sedangkan saya cukup menempati posisi juara 3. Bisakah dibayangkan bagaimana perasaan saya waktu itu?! Terus terang saat itu saya menganggap kalau perempuan itu lebih superior daripada laki-laki, terutama dalam hal akademis. Dan manakala ada anak perempuan yang terlihat malas atau bahkan asal-asalan, saya pun dengan tidak ragu-ragunya berkata: “Woy, kamu kan anak perempuan, kok malas kayak anak laki-laki sih?”...
Ketika saya duduk di bangku SMP pun keadaan tidak banyak berubah. Perempuan masih saja menjadi bintang kelas. Sedangkan anak laki-laki nya masih saja jadi underdog alias cuma bisa “ngeles”. Saya semakin menaruh rasa respek yang tinggi sama anak perempuan di sekitar saya. Saya bahkan jadi teringat perjuangan R.A Kartini dahulu (halah!).
Dan kalau tidak salah, keadaan baru benar-benar berubah setelah saya memasuki bangku SMU. Di SMU saya yang baru itu peringkat 10 besar kelas selalu didominasi oleh anak laki-laki. Benar-benar menakjubkan!. Ternyata mayoritas anak laki-laki di sekolah saya itu benar-benar super rajin!. Keadaan ini benar-benar membuat saya tersadar bahwa sebab-musabab semua keadaan ini bukanlah dikarenakan faktor jenis kelamin. Ini semua lebih dikarenakan faktor sistem didik orangtua, akademik atmosfer dan semangat tidak mau kalah. Menurut survey kecil-kecil yang saya lakukan, kebanyakan anak-anak yang bersekolah di SMU saya berasal dari daerah perkotaan yang mayoritas orangtuanya menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Karena itu benar-benar tidak mengherankan jika para siswa di SMU saya itu banyak yang mengikuti bimbingan-bimbingan belajar seusai pelajaran sekolah. Mata saya benar-benar terbelalak waktu itu, mengingat para anak laki-laki pun pada bersemangat mengikuti bimbingan belajar?!. Memang benar, SMU saya adalah SMU ternama di kota kami. Ga sembarang orang bisa menjadi bagian dari sekolah ini. Mungkin karena inilah aura “Akademik Atmosfer” di sekolah ini berasa sangat kuat. Hampir setiap anak laki-laki memiliki etos belajar yang tinggi. Setinggi semangat tidak mau kalahnya?! Sepertinya saya sedikit terpengaruh?!
Dengan begitu, yang menjadi akar segalanya bukanlah dikotomi laki-laki dan perempuan. Yang menjadi penyebabnya adalah sistem didikan orang tua dan lingkungan di mana kita berada. Hmm, jadi teringat kata-kata mantan pacar saya dahulu. “Bisa adalah karena biasa”. Bukankah begitu, wening andarsari?hehehe...
Ketika saya duduk di bangku SMP pun keadaan tidak banyak berubah. Perempuan masih saja menjadi bintang kelas. Sedangkan anak laki-laki nya masih saja jadi underdog alias cuma bisa “ngeles”. Saya semakin menaruh rasa respek yang tinggi sama anak perempuan di sekitar saya. Saya bahkan jadi teringat perjuangan R.A Kartini dahulu (halah!).
Dan kalau tidak salah, keadaan baru benar-benar berubah setelah saya memasuki bangku SMU. Di SMU saya yang baru itu peringkat 10 besar kelas selalu didominasi oleh anak laki-laki. Benar-benar menakjubkan!. Ternyata mayoritas anak laki-laki di sekolah saya itu benar-benar super rajin!. Keadaan ini benar-benar membuat saya tersadar bahwa sebab-musabab semua keadaan ini bukanlah dikarenakan faktor jenis kelamin. Ini semua lebih dikarenakan faktor sistem didik orangtua, akademik atmosfer dan semangat tidak mau kalah. Menurut survey kecil-kecil yang saya lakukan, kebanyakan anak-anak yang bersekolah di SMU saya berasal dari daerah perkotaan yang mayoritas orangtuanya menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Karena itu benar-benar tidak mengherankan jika para siswa di SMU saya itu banyak yang mengikuti bimbingan-bimbingan belajar seusai pelajaran sekolah. Mata saya benar-benar terbelalak waktu itu, mengingat para anak laki-laki pun pada bersemangat mengikuti bimbingan belajar?!. Memang benar, SMU saya adalah SMU ternama di kota kami. Ga sembarang orang bisa menjadi bagian dari sekolah ini. Mungkin karena inilah aura “Akademik Atmosfer” di sekolah ini berasa sangat kuat. Hampir setiap anak laki-laki memiliki etos belajar yang tinggi. Setinggi semangat tidak mau kalahnya?! Sepertinya saya sedikit terpengaruh?!
Dengan begitu, yang menjadi akar segalanya bukanlah dikotomi laki-laki dan perempuan. Yang menjadi penyebabnya adalah sistem didikan orang tua dan lingkungan di mana kita berada. Hmm, jadi teringat kata-kata mantan pacar saya dahulu. “Bisa adalah karena biasa”. Bukankah begitu, wening andarsari?hehehe...
Posted under:
