Bukankah begitu?

Jika kita anda mau meluangkan waktu untuk bertanya, cobalah tanyakan kepada keluarga, sahabat, atau bahkan diri anda sendiri perihal hobi yang mereka dan anda miliki. Saya yakin jawaban-jawaban yang anda dapat akan seragam. Dan ini bukan sesuatu yang ganjil, menurut saya. Bahkan ini sangatlah wajar!

Keseragaman bukannya datang dengan sendirinya. Keseragaman hadir karena keseragaman”. Input yang sama “kemungkinan besar” akan menghasilkan output yang sama pula. Okey, ini masih bersifat hipotesis. Dalam arti bisa dikuatkan, apalagi dipatahkan. Anda berhak membuktikannya sendiri!.

Apakah anda memiliki pesawat televisi di rumah? Kalau iya, coba anda lihat beberapa tayangan di beberapa channel secara bergantian (saya yakin anda memiliki remote control,red). Umm, coba saja anda cermati betapa “seragam-nya” tayangan yang disuguhkan kepada pemirsa tv (anda termasuk,red). Entah itu acara berita, film cinta-cintaan, gossip, atau bahkan humor yang dikemas secara vulgar?!. Bisa dikatakan kalau setiap harinya kita mendapatkan suguhan yang itu-itu saja. Benar-benar membosankan!! Peradaban saat ini benar-benar garing!!!

Kembali soal hobi, ada salah satu hobi yang menurut saya sudah sangat tua. Menurut saya, kedua hobi ini saling terkait. Satu dan yang lainnya tidak bisa dipisahkan (saling dukung,red). Mirip logika aksi-reaksi. Hobi itu adalah Membaca dan Menulis. Entah itu essai, cerpen, novel, artikel, diary, blog, dll.

Pernah dalam suatu kesempatan saya berpikir, “Sampai kapan tradisi Baca-Tulis” ini akan eksis? Akankah akan ada saatnya hobi ini ditanggalkan manusia dari ranah peradabannya? Hmm, saya rasa tidak akan semudah itu. Selalu saja akan ada tulisan. Akan selalu ada juga aktivitas membaca sebagai reaksi atas keberadaan tulisan tersebut!

Jika anda seorang pelajar, entah itu pelajar Sd, SLTP, atau SMA, tentunya anda tidak asing dengan yang disebut buku-buku pelajaran. Anda juga tidak asing dengan aktivitas tulis-menulis. Sejak dahulu sampai sekarang aktivitas ini masih saja ada. Dan kalau pun ada sudah ada di bangku perkuliahan, aktivitas yang serupa pun tetap saja ada. Entah itu dalam bentuk paper, ujian, atau bahkan skripsi, hehehe...

Lantas bagaimana jika anda, yang kebetulan menemukan tulisan ini mengaku sudah tidak termasuk dalam kategori pelajar dan mahasiswa? Hmm, saya rasa aktivitas Baca-Tulis akan tetap saja ada. Entah itu dalam proses pembuatan KTP, rujukan resep obat dokter, atau bahkan ketika anda akan menggunakan fasilitas toilet (ladies-gent) di pusat perbelanjaan. Percayalah, tanpa bekal kemampuan Baca-Tulis, anda benar-benar berada dalam masalah besar, hehehe...(nb: saat ini, saya rasa anda tengah membaca tulisan saya,red)

Kegiatan Baca-Tulis akan senantiasa ada. Jika saja anda seorang muslim, anda tentunya anda tidak akan asing dengan kata “Iqra” dalam sebuah suratan dalam alqur'an yang berarti “bacalah”.

Ada yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menguasai teknologi. Sedangkan untuk menguasai teknologi pun tentunya dibutuhkan kemampuan Baca-Tulis. Setidaknya untuk membedakan cara baca Tombol: On/Off, hehehe...

Saya bukanlah menteri pendidikan saat ini. Saya juga bukan guru Oemar Bakri. Saya hanya orang yang sering memanfaatkan waktu luang yang saya memiliki untuk membaca dan menulis. Bagi saya, menulis adalah panggilan dari hati, sebagaimana membaca itu sendiri. “Seorang penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik”. Bukankah begitu, Adek Paramita Sari?! :)
 
Posted under: