Bisa Karena Biasa

Ketika masih duduk di bangku SD dulu saya pernah membuat hipotesis yang lumayan keren (u/ ukuran anak SD,red). Menurut saya ada terdapat sebuah dikotomi yang membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Sesuai pengalaman saya dulu, kebanyakan anak laki-laki di sekitar saya memiliki sifat pemalas, terutama dalam belajar. Sebaliknya, kebanyakan anak perempuan memiliki sifat yang jauh lebih rajin, bahkan terkesan penurut. Keadaan ini berlangsung secara terus menerus hingga saya menganggap memang beginilah adanya. Terlebih lagi manakala posisi juara kelas 1 dan 2 selalu diduduki oleh anak perempuan. Sedangkan saya cukup menempati posisi juara 3. Bisakah dibayangkan bagaimana perasaan saya waktu itu?! Terus terang saat itu saya menganggap kalau perempuan itu lebih superior daripada laki-laki, terutama dalam hal akademis. Dan manakala ada anak perempuan yang terlihat malas atau bahkan asal-asalan, saya pun dengan tidak ragu-ragunya berkata: “Woy, kamu kan anak perempuan, kok malas kayak anak laki-laki sih?”...

Ketika saya duduk di bangku SMP pun keadaan tidak banyak berubah. Perempuan masih saja menjadi bintang kelas. Sedangkan anak laki-laki nya masih saja jadi underdog alias cuma bisa “ngeles”. Saya semakin menaruh rasa respek yang tinggi sama anak perempuan di sekitar saya. Saya bahkan jadi teringat perjuangan R.A Kartini dahulu (halah!).

Dan kalau tidak salah, keadaan baru benar-benar berubah setelah saya memasuki bangku SMU. Di SMU saya yang baru itu peringkat 10 besar kelas selalu didominasi oleh anak laki-laki. Benar-benar menakjubkan!. Ternyata mayoritas anak laki-laki di sekolah saya itu benar-benar super rajin!. Keadaan ini benar-benar membuat saya tersadar bahwa sebab-musabab semua keadaan ini bukanlah dikarenakan faktor jenis kelamin. Ini semua lebih dikarenakan faktor sistem didik orangtua, akademik atmosfer dan semangat tidak mau kalah. Menurut survey kecil-kecil yang saya lakukan, kebanyakan anak-anak yang bersekolah di SMU saya berasal dari daerah perkotaan yang mayoritas orangtuanya menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Karena itu benar-benar tidak mengherankan jika para siswa di SMU saya itu banyak yang mengikuti bimbingan-bimbingan belajar seusai pelajaran sekolah. Mata saya benar-benar terbelalak waktu itu, mengingat para anak laki-laki pun pada bersemangat mengikuti bimbingan belajar?!. Memang benar, SMU saya adalah SMU ternama di kota kami. Ga sembarang orang bisa menjadi bagian dari sekolah ini. Mungkin karena inilah aura “Akademik Atmosfer” di sekolah ini berasa sangat kuat. Hampir setiap anak laki-laki memiliki etos belajar yang tinggi. Setinggi semangat tidak mau kalahnya?! Sepertinya saya sedikit terpengaruh?!

Dengan begitu, yang menjadi akar segalanya bukanlah dikotomi laki-laki dan perempuan. Yang menjadi penyebabnya adalah sistem didikan orang tua dan lingkungan di mana kita berada. Hmm, jadi teringat kata-kata mantan pacar saya dahulu. “Bisa adalah karena biasa”. Bukankah begitu, wening andarsari?hehehe...
 
Posted under:
2 Comments Make A Comment
  • Anonymous Said:

    hehehehe... pemikiran yang lumayan cerdas -bahkan untuk ukuran anak smp/sma

    kekekeke...
    eh btw post yang kemaren-maren mana bib?? dihapusin??
    halah

  • Anonymous Said:

    Y, begitulah J :)
    Bisa karena Biasa.
    G nyangka km inget

Leave a comment